Hai namaku maknur hutagalung anak ke-3 dari 9 bersaudara, sekarang saya tinggal dibandung jawa barat. Aku memiliki 7 saudari perempuan yang cantik-cantik dan 1 adek yang ganteng. Kisah ini mungkin bagi orang dramatis atau bisa dibilang ga penting untuk dikenang. Namun buatku ini adalah kisah yang buat pembelajaran sangat berharga serta bermanfaat untuk membangun diri lebih baik. Aku bercerita bukan mengada-ngada atau ingin membuat sensasi belaka agar dikasihani orang. Itu bukan sifatku yang hanya mencari ketenaran untuk terkenal seperti yang terjadi saat ini. Tetapi ini jelas kenyataan yang pernah terjadi padaku waktu aku masih kecil dulu.
Aku adalah anak dari seorang petani disatu kabupaten yang ada disumatera utara sana. Nama kampungku disumatera utara yaitu mungkur kabupaten Sibolga kelurahan tapanuli II Tapanuli Tengah. Kota kecil diujung sumatera utara yang potensinya luar biasa yang dikelilingi pantai sebagai wisata indah. Pekerjaan disana biasanya kalau ga petani ya jadi nelayan sebagai profesi tambahannya. Kalau aku dimasa kecil bapak pekerjaannya nelayan dan mama bertani yang digarap sawah orang. Kami biasanya kalau bapak pergi melayan sering ditinggal berbulan-bulan ga pulang kerumah. Sebelum bapak bekerja menjadi nelayan, bapak dulunya bekerja disomel sebuah pabrik kayu. Setelah pabrik tempat bapak bekerja bangkrut , bapak beralih jadi nelayan untuk memenuhi kebutuhan kami.
Suatu hari ketika bapak melaut ga pulang satu bulan lebih sehingga mamaku memutuskan kami harus pergi dari rumah. Karena rumah kami ada dua walaupun rumahnya seperti gubuk tapi nyaman untuk ditempati. Rumah kami satu ada di ladang dan satu lagi ada di didesa , desa keladang lumayan jauh. Meskipun demikian kami ga pernah kelaparan atau menjadi mengemis untuk makan. Kami selalu berkecukupan serta bisa sekolah seperti anak lainnya. Dulu kami masih tiga bersaudara belum ada yang dibawah kami adek-adek sekarang. Waktu itu antara tahun 1990-an, aku masih ingat banget kisah lampau yang sangat memilukan.
Terkadang kalau saya mengingat masa itu, hatiku menangis namun kubersyukur atas semuanya. Kenapa aku bersyukur dengan semuanya ? Sebab kalau tidak kualami hal seperti mungkin aku takkan bisa bertahan diperantaun ini. Mungkin juga aku akan menjadi orang nakal atau cengeng atau lebih parahnya mungkin bisa menjadi manusia brandal. Sakit memang yang kujalani tetapi itu yang membuatku semakin kuat untuk menjalani hidup tanpa mengeluh. Buktinya sampai hari ini aku masih bisa berdiri meskipun banyak cobaan yang kulalui. Jujur saya merantau tidak ada yang kukenal apalagi keluarga ga ada. Aku diperantaun ini seperti anak yang kehilangan induknya, ga ada tempat mengadu jika terjadi apa-apa padaku. Tapi aku doakan jauh-jauhlah hal yang buruk dariku.
bersambung..............................