Search This Blog

Thursday, March 23, 2017

Panjang lidah awal dari orang stres

jika kita mendengar kata panjang lidah pasti kita tahu apa artinya dengan kata itu, karena kata panjang lidah sering kita dengar dan sering juga dilihat disekitar lingkungan kita berada. Panjang lidah berarti orang yang suka menggosip. Terkang teman sendiri digosipin ntah apa gunanya menjelekkan orang lain, padahal belum tentu benar apa yang disampaikannya. Yang paling parahnya lagi yang mendengar perkataannya itu dipercaya begitu saja. Memang susah kalau memiliki teman tukang gosip ( panjang lidah ). Kita ngga tahu kapan dia akan mengata-ngatain dibelakang , soalnya tukang gosip seperti ular berbisa yang diam-diam mencotok. Ntah kapan kita akan dipatok dengan kejinya kita tidak tahu makanya jika menghadapi orang seperti itu kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Kadang  kita harus memiliki rasa sabar lebih supaya tidak termakan hati. Menang bisa terkatakan kalau sudah terjadi dan tidak mungkin dimakan orangnya. Marah itu wajar apalagi kesal itu sudah pasti tapi dari pada berantem lebih baik diem. Jika tidak tahan untuk diungkapkan lebih baik diomongin langsung apa maksudnya. Itu lebih baik untuk menghindari permusuhan  serta menghindari pertengkaran.
Kita jauh dari pandangan kedua orangtua maka dari itu kita harus pintar-pintar nyari teman. Ya kita ngga tahu sih siapa teman yang baik karena kita ngga tahu apa dia baik atau ngga. Seperti kata orangtua ngga boleh so'uzon sama orang soalnya itu ngga baik. Tetapi walaupun demikian kita harus hati-hati berjaga sikap dan berperilaku. Lebih baik menjauhi orang suka menggosipin orang atau ngga usah ditanggapin. Peringati dia kalau dia yang mau dibilangin maka biarin saja dia rusak sendiri. Jangan mau ikut-ikutan rusak mungkin dia stres.
Apalagi kita itu anak rantau harus bijak menjalani setiap perjalanan hidup yang ada ditanah perantauan ini. Ditanah perjuangan ini jangan mengejar pergaulan yang membuatmu hancur agar kamu dianggap hebat. Kita harus terus mengingat nasehat orangtua yang mengajari selalu bersyukur apapun yang terjadi. Dulu kita diberangkatkan dari kampung halaman dengan harapan mulia orangtua penuh nasehat inspirasi dan motivasi semangat. Supaya kita selalu teguh dalam kenyakinan untuk menjanani teka-teki hidup ini. Mereka membiarkan kita pergi serta memberangkatkan kita keperantaun bukannya orangtua kita rela. Namun mereka sedang mengajari kita bagaimana sakitnya mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apa kita dapat mandiri tanpa membebani orang lain dengan kemampuan kita sendiri. Orangtua kita ngga ngajarin kita yang bukan-bukan apalagi menggosipin orang. Mereka pasti berharap kalau suatu hari nanti kita menjadi orang berguna yang dapat dibanggakan. Memberi contoh baik buat saudara maupun buat keluarga terutama bagi Tuhan.
Sakit pahitnya kehidupan diperantauan serta bagaimana kita menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Orangtua kita tidak mengharapkan uang kita, mereka hanya berharap kita selalu sehat dan memberi kabar pada mereka itu sudah cukup.
Makanya kita semua harus seperti perumpamaan yaitu jadilah seperti ular yang cerdas
bijak seperti burung merpati.

No comments:

Post a Comment