Hai semua semangat sore untuk kita semoga hari ini selalu diberkati pekerjaan yang kita kerjakan ya,,,, jangan lupa untuk mengucap syukur
Hari ini saya akan menceritakan kisahku untuk kalian,,,,, bukan untuk pamer atau ingin terkenal, bukan,,, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin berbagi pengalaman apalagi kita anak rantau yang jauh dari dekapan orangtua. Tidak ada salahnya kita berbagi sesuatu terutama pengalaman hidup yang kita jalani saat ini. Kita memiliki bermacam ujian serta berbagai tantangan hidup yang kita hadapi. Salah satunya saya sebagai anak rantau yang mempunyai banyak masalah untuk mendewasakanku untuk bersikap. Dulu saya sebelum merantau ,,,saya masih 0 pengalaman. Tidak tahu apa-apa terutama bersikap bagaimana saya belumtahu karena masih awal jadi beradaptasi masih belum bisa. Saya sering salah untuk berperilaku sebab perilaku yang masih dini membuatku serba salah. Sikap saya yang dulu yang sering membuat orang tersinggung adalah masih terasa kasar. Karena sikap saya masih sikap anak sibolga yang ga bisa lembut untuk berbicara. Tetapi lama kelamaan saya mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan yang kutinggali. Aku berusaha belajar sampai bisa mengikuti budaya yang ada ditempatku sekarang.
Awalnya agak sulit kuikuti budaya disini,,,, bukan karena saya nakal atau anak yang kurang ajar. Melainkan karena kebiasaan budaya sibolga yang sulit untuk di rubah dengan sekejab mata. Namun saya belajar sendiri dengan mengikuti yang saya liat. Saya masih ingat banget waktu pertama saya datang ke bandung ini, saya tidak langsung memiliki pekerjaan. Saya sempat nganggur beberapa bulan sambil menunggu mencari pekerjaan. Dulu saya tinggal dirumah paman, karena pamanku buka toko warung maka itulah saya jaga. Ya hitung-hitung belajar berniaga untuk kedepannya mungkin ada rezeki. Selang beberapa bulan akhirnya yang ditunggu-tunggu ada juga pekerjaan walaupun itu jadi kuli bangunan. Awalnya saya sangat kecewa sekali dengan pekerjaan yang dikasih tapi saya berpikir apa salahnya untuk dicoba untuk pengalaman.
Dengan berjalannya waktu saya melakukan pekerjaan jadi kuli bangunan didaerah Riau Bandung tepatnya di jln ciliwung. Setegah hati saya mengerjakannya dengan rasa kecewa yang sangat mendalam. Dipikiranku saya berkata buat apa aku merantau kebandung ini jika pada akhirnya saya mengerjakan pekerjaan yang sudah kutinggalkan dikampung. Namun aku berpikir lagi biarkanlah dinikmati untuk sementara sambil mencari pekerjaan yang lebih baik lagi.
Yang membuatku lebih kecewa lagi kepada pamanku sendiri , selama bekerja paman ini ikut juga bekerja denganku. Bukannya aku ga suka dengan pamanku karena ikut bekerja denganku, bukan itu melainkan gajiku yang ditahan. Alasannya untuk disimpan kalau ntar habis pronyek akan dikasih semuanya padaku. Waktu itu aku percaya karena dia pamanku sendiri, ga mungkin pamanku sendiri membohongiku. Tetapi seiring waktu berjalan pronyek selesai, saya meminta uangku untuk keperluanku soalnya dulu saya berkeinginan untuk melanjutkan kuliah. Di situ hatiku hancur, ga bisa ngomong apa-apa lagi waktu dibilang pamanku ga ada lagi duitnya. Sungguh sangat ngeri perasaanku dan ntah apa yang akan kuperbuat.
Sampai sekarang uangku itu ga dikasih paman itu, padahal dulu saya sampai ngirit jajan 50 ribu seminggu untuk keinginan yang sudah kurencanakan. Disitulah aku putus asa seperti ga ada pengharapan lagi. Ntah saya mau berbuat apa juga, aku tidak tahu karena otakku pun blank. Sangat ngeri sekali yang kualami, itulah pengalaman pertama yang membekas yang akan membuatku belajar.
Lama saya sembunyikan itu dari orangtuaku, saya tidak menceritakan apa-apa pada bapak mamaku. Sampai sekarang masih tersembunyi rapi dihatiku tanpa mereka tahu. Saya tidak ingin orangtuaku sakit hati apalagi sama pamanku sendiri. Biarlah itu sebagai pelajaran berharga untukku agar aku semakin kuat untuk jalani hidup dirantau ini.
Rasa kecewa hanya mengajariku tentang bagaimana aku bersikap untuk lebih baik. Sebab aku masih mengingat nasehat kedua orangtuaku sehingga saya dapat bertahan. Ketika rasa kecewa datang menghampiri serta marah pun aku tak ada hak untuk menghakimi. Maka disitulah aku belajar mendewasakan diri, menumbuhkan pengharapan dalam Iman. Mengubah diri untuk lebih baik lagi dengan menginstropeksi diri biar semakin berpengalaman. Oleh karena itu aku akan menjadi diri sendiri serta terus tetep optimis. Aku tahu menjalani hidup ini harus disyukuri sebab hidup seperti meniti tangga yang tinggi. Untuk menaikinya harus penuh perjuangan dalam menggapai sampai keatas. Kaki harus kuat untuk melangkah dari yang pertama sampai seterusnya, sampai ketujuan. Letih, lelah, capek, itu pasti ada tetapi itulah ujiannya . Naik memang lebih susah sebab naik itu lebih penuh tantangan dengan kesulitannya. Karena kalau turunnya yang lebih mudah sebab itulah keputus'asaan.
No comments:
Post a Comment