Awalnya saya sangat marah sama tulangku, sampai-sampai saya sempat ga datang kerumahnya. Ga mau bertemu dengan pamanku sehingga pamanku pernah bilang samaku kalau aku sudah sombong. Mereka bilang " kenapa kamu ga pernah kerumah, apa kamu sudah kaya makanya kamu ga mau lagi bertemu dengan kami ?" Gitu katanya. Padahal saya ga ada maksud seperti itu, saya hanya ingin pamanku itu menyadari yang saya maksudkan. Ya mungkin mereka merasa tidak bersalah padaku makanya mereka biasa-biasa kalau bertemu denganku.
Sering saya berfikir, beginikah sakitnya ditempat rantau atau apakah cuma saya sendiri yang mengalami hal seperti ini ?. Hancur perasaanku saat itu sehingga saya ga peduli dengan semuanya. Perasaan acuh tak acuh pun muncul dibenak dengan rasa yang kacau tak dapat berfikir lagi. Jika ditanya saat itu mungkin saya ga dapat menjawabnya, karena sudah campur aduk yang berkecamuk.
Mulai saat itu saya berjanji dihatiku untuk melupakan semua yang pernah terjadi. Mungkin itu adalah salah satu ujian yang Tuhan berikan padaku untuk terus bersyukur. Aku tidak dendam atau berkeinginan untuk membalasnya. Saya malah mendoakan agar pamanku itu selalu sehat terberkati. Jauh-jauhlah dariku sifat pendendam apalagi kepaman sendiri, itu tidak baik.
Memang yang diperbuat pamanku itu sudah sangat keterlaluan tapi itulah pembelajaran untukku. Bagaimana pun dan sampai kapan pun paman itu tetap pamanku saudara mamaku. Tidak mungkin kujadikan paman orang jadi pamanku karena hal seperti itu dilakukan padaku. Aku tidak pernah diajarkan orangtua ku membalas kejahatan dengan kejahatan. Namun saya diberangkatkan orangtuaku dari kampung halaman merantau keseberang pulau disertai nasehat. Nasehat yang selalu mngingat untuk terus hormat pada orangtua. Tidak boleh berperilaku yang tidak dapat ditiru apapun itu ceritanya.
Maka dari itulah peganganku untuk tidak menuntut pamanku. Tidak ada gunanya juga aku marah atau membencinya serta mencaci pamanku sendiri karena kami adalah keluarga. Mungkin kalau orang menilainya aku seorang yang bodoh membiarkan uangku lenyap begitu saja. Tetapi menurut saya itu jalan terbaik yang sangat bijak. Biarlah orang menilainya sebagaimana pendapat mereka tentang yang saya perbuat.
Lagian pamanku sekarang sudah pindah kekalimantan barat mencari kehidupan baru disana. Aku memafkannya meskipun pamanku tidak pernah secara langsung minta maaf padaku. Aku anggap pamanku sudah meminta maaf dan sudah mengaku salah. Karena sebagai anak tidak baik menyimpan dendam sebab akan sangat parah jika tak cepat-cepat dikeluarin. Saya sadar tak ada manusia yang sempurna didunia ini. Pasti ada kesalahan yang sengaja maupun tak sengaja diperbuat.
Oleh karena itu biarlah berjalan sebagaimana seharusnya berjalan. Biarlah seperti air mengalir yang sangat menyejukkan. Anak rantau harus kuat sekuat baja, ga boleh cengeng harus dapat mandiri tanpa bersandar ke orang lain. Nasib baik terkadang jauh dariku terkadang dia dekat tapi aku tidak menyadarinya. Tuhan memberiku cobaan serta ujian hidup bukan berarti Dia tidak sayangpadaku. Tetapi karena Dia teramat cinta dan sayang padaku sehingga Tuhan mengujiku. Sebab Tuhan ingin melihat seberapa kuat serta seberapa setiamya aku pada_Nya. Dia ingin melihat seberapa pantasnya aku berdiri didalam Iman.Karena Tuhan menginginkankanku menjadi hamba yang kuat dihadapan_Nya dalam kasih.
No comments:
Post a Comment